February 28, 2021

Bunga Bank Indonesia Turun Jadi 3.5% Di Februari 2021

3 min read
suku bunga bi 2021

Berdasarkan rapat yang di lakukan pada tanggal 17 dan juga 18 feburari tahun 2021 dewan gubernur dari bank indonesia atau RDG BI memutuskan kalau akan menurunkan tingkatan suku bunga acuannya menjadi 3.5 persen dari semulanya 3.75 persen dengan penurunan sebesar 25 poin basis di bulan februari 2021 ini. Bunga lainnya yang juga ikut berpengaruh adalah dari tingkat suku bungan deposit facility dan juga bunga dari lending facility yang juga masing masingnya menurun 25 basis poin dimana menjadi 2.75 persen dan juga 4.25 persen.

Gubernur BI Perry warjiyo mengungkapkannya dalam konfrensi perse dari hasil RDG BI di periode februari 2021 dengan cara virtual dengan berkata “Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 17-18 Februari 2021 memutuskan untuk menurunkan BI 7DRR sebesar 25 bps menjadi 3,5 persen”

Perry Warjiuo juga mengungkap keputusan untuk penurunan suku bunga acuan yang terjadi di bulan ini karena menimbang kondisi keungan dan ekonomi nasional dan juga global. Dari sisi globalnya Perry berkata kalau pemulihan ekonomi akan di perkirakan semakin membaik karena sudah terjadi vaksinasi di berbagai negara. Pumulihan pada negara maju yang di topang amerka serikat dan negara negara berkmebang di topang oleh india dan china ungkap perry.

Indeks perekonomian di berbagai negara ini juga terlihat membaik tambahnya contohnya pada indeks PMI dan juga ritel yang semakin membaik di tiga negara besar di china, india, dan amerika serikat. Hal ini lah yang akan membuat global ekonomi di duga mampu naik dari proyeksi semula di angka 5 persen menjadi 5.1 persen pada tahun ini. Signal lainnya terliihat juga dari segi ekspor yang mulai meningkat pada beberapa negara termasuk indonesia, dan juga pasang keuangan yang semakin hari semakin mendapatkan kepastiannya serta kebijakan moneter yang longgar masih akan berlanjut sehingga nantinya akan memperkuat nilai mata uang rupiah di berbagai negara dan juga indonesia sendiri.

Bank sentral indonesia memandangi hal tersebut akan membuat ekonomi di negara ndonesia masih terkontraksi di kuartal IV sebelumnya. Namun indikasi pemulihan masih berlanjut dan salah satunya daapt terlihat dari produktivitas ekspor batu bara, sawit, dan manufaktur seperti kendaraan motor, alas kaki, dan kimia organik. Melalui kondisi ini maka membuat bank sentral menurunkan proyeksi laju pada ekonomi indonesia di 2021 dari yang semula di angka 4.8 persen hingga 5.8 persen menjadi sekitar 4.3 persen sampai 5.3 persen. Terlepas dari itu Perry mengatakan aliran modal dari asing akan tetap masuk ke dalam negeri indonesia. Sudah tercatat kalau net capital inflow mencapai nilai 8.5 milliar us dolar dari tanggal 1 januari hingga 16 februari 2021 lalu.

Sementara itu cadangan devisa negara tercatat pada angka 138 milliar us dolar yang bisa di setarakan dengan pembiayaan selama 10.5 bulan impor di bulan lalu. Hal ini menjadikan BI tidak mengubah proyeksi defisit transaksi berjalan atau current account deficit / CAD sebesar satu sampai dua persen dari PDB di 2021. Lebih lanjut lagi nilai tukar pada mata uang rupiah terlihat menguat 0.22 persen dari rerat dan 0.07 persen dari point to point di februari sampai pada januari yang lalu. Perry menjelaskan ini terjadi di karenakan penurunan ketidak pastian global dan juga membaiknya prospek eknonomi domestik.

Bank Indonesia memandang menguatnya rupiah akan terus berlanujt karena levelnya masih underbalue. Dan terdukung oleh defisit transaksi yang berjalan rendah. Daya tarik aset dari domestik yang tinggi serta inflasi rendah dan terkendal dan juga premi resiko menurun hingga likuditas global besar. Inflasi sendiri kalau di lihat lajunya akan lebih rendah pada tahun ini dengan target sebanyak 3 persen plus minus 1 persen

Dari sisi mikro, bank indonesia juga mempertimbangi beberapa indikator keuangan nasional dan secara khusus mengenai terkaitnya likuidasi yang masih besar, kondisi ini terdukung oleh suntikan likuiditas lewat pelonggran kuantitatif / QE (quantiative easing) dari bank indonesia mencapai nilai 750.368 triliun rupiah atau 4.86 persen dari pDB. Merupakan salah satu yang terbesar dalam emerging market tutur Perry.

Suntikan juga berupa pembelian surat berharga negara atau SBN untuk membiayai anggaran pendapatan dan juga belanjan negara atau apbn mencapai 40.77 trilliun di periode 1 januari hingga 16 februari 2021 juga. Lanjutnya lagi likuiditas longgar dapat terlihat dari rasio alat liquid dalam halnya menghadapi dana pihak ketiga sebesar 31.64 persen dan kemudain pertumbuhan dari Dana pihak ketiga mencapai 10.57 persen di periode yang sama

Selain itu rasio keckupan modal atau yang biasa di kenal dengan istilah CAR atau capital adquacy rati bank adalah sebesar 23.81 persen. Rasio kredit bermasalah atau NPL / non performing loan sebesar 3.06 persen dalam hitungan gross atau 0.98 persen dalam hitungan net. BI Juga mencatat rata rata suku bunga PUAB 3.04 persen, kredit modal kerja sebesar 9.7 persen dan suku bunga deposito 4.27 persen, dan pertumbuhan kredit bank kontraksi di 1.92 persen sehingga membuat bank indonesia merevisi target pertumbuhan kredit untuk tahun ini dari semula 7 hingga 9 persen persen menjadi  5 persen sampai 7 persen. Demikian lah disampaikan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.