February 28, 2021

Cina Tunda Libur Imlek Karena Covid-19

3 min read
Berita Covid-19

Kembali memburuknya pandemi COVID-19 di Cina mendorong pemerintah setempat untuk mengimbau warganya tidak berlibur dulu saat Imlek nanti. Mereka khawatir perjalanan besar-besaran saat Imlek nanti malah akan memperburuk situasi yang ada.

Per berita ini ditulis, Cina mencatatkan jumlah kasus harian terbanyak dalam 10 bulan terakhir. Kemarin Kamis, tercatat ada 144 kasus baru di Cina yang tertinggi setelah 202 kasus per hari pada 1 Maret 2020 lalu. Untuk total jumlah kasus dan kematian akibat COVID-19, ada 87 ribu dan 4.635 orang.

Mengingat situasi epidemi yang memburuk di seluruh dunia, Guangdong di China telah secara resmi mulai memberikan vaksin Virus Corona COVID-19. Prioritas untuk orang-orang yang bekerja di lingkungan-lingkungan berisiko tinggi.

Menurut otoritas kesehatan provinsi itu pada Kamis 24 Desember 2020, sekitar 180 ribu orang telah menerima suntikan vaksin COVID-19 di Provinsi Guangdong, China Selatan, sepanjang tahun ini.

“Sebanyak 135 kasus (dari 144) berada di kluster lokal. Sembilan puluh di antaranya berada di provinsi Hebei yang mengelilingi Beijing. Lalu, 43 kasus berada di provinsi Heilongjiang, sementara sisanya masing-masing berada di Guangxi dan Shaanxi,” ujar Komisi Kesehatan Nasional Cina, dikutip dari kantor berita Al Jazeera, Jumat, 15 Januari 2021.

Apabila berkaca pada situasi tahun lalu, situasi pandemi COVID-19 Cina juga memburuk di periode yang sama, menjelang Imlek. Pada periode tersebut, ratusan juta warga Cina umumnya berlibur, antara pulang ke kampung halaman masing-masing atau pergi berlibur ke berbagai destinasi wisata, baik di luar maupun dalam negeri.

Tahun lalu, Cina kecolongan. Ketika upaya pencegahan pandemi COVID-19 dilakukan di akhir Januari, beberapa warga Cina sudah kadung melakukan perjalanan. Alhasil, virus COVID-19 menyebar dengan cepat. Hal itu diperburuk temuan bahwa ternyata orang tanpa gejala pun juga bisa menularkan virus. Nah, Komisi Nasional Cina tidak ingin hal serupa terulang.

Agar warga menurut untuk tidak pergi berlibur dulu, Pemerintah Cina berjanji memberikan insentif. Beberapa di antaranya seperti gaji tambahan, hadiah, hiburan, serta parsel Imlek. Dikutip dari Al Jazeera, berbagai pemerintah deaerah di Cina sudah mengeluarkan edaran soal insentif tersebut, membujuk warga untuk tidak berkeliaran dulu.

Di kalangan warga, keputusan untuk bertahan atau tetap berlibur menjadi perdebatan. Terutama, untuk mereka yang ingin pulang ke rumah keluarga. Wang Zhishen, yang bekerja untuk pabrik kontainer di wilayah Dongguan (selatan Cina) berada di kubu yang condong bertahan. Ia khawatir menulari keluarganya jika tetap pulang.

“Bagaimana jika saya sial dan malah tertular ketika dalam perjalanan pulang? Keluarga saya akan sakit semua. Andai pabrik saya tetap beroperasi, saya akan mantap bertahan di Dongguan. Pulang terlalu beresiko,” ujarnya.

Berbeda dengan Zhishen, Wang yang bekerja sebagai pegawai konstruksi di Beijing memilih nekat pulang ke keluarganya di Shandong. Menurutnya, lebih baik menghabiskan waktu dengan keluarga dibanding sendirian saat lockdown.

“Tidak ada jalan lain. Saya harus pulang ke sana seblum lockdown COVID-19 diberlakukan. Saya punya keluarga menunggu,” ujarnya.

Golongan Penerima Vaksin Covid-19 Di China

Berikut ini kelompok prioritas utama yang menerima vaksin COVID-19 di Guangdong:

  • Para pekerja di sektor logistik
  • Para pekerja bea cukai
  • Para pekerja transportasi umum
  • Petugas kesehatan garis depan berada

Sejauh ini tidak ada efek samping dari proses vaksinasi COVID-19 tersebut.

“Hingga 22 Desember, 180 ribu orang di Provinsi Guangdong telah divaksinasi. Tidak ada efek samping serius yang pernah terjadi. Vaksinasi secara umum berjalan lancar dan teratur,” kata Duan Yufei, Direktur Komisi Kesehatan Provinsi Guangdong pada sebuah konferensi pers.

Penggunaan Vaksin COVID-19 Dilacak

Penggunaan vaksin dilacak mulai dari pengiriman hingga saat disuntikkan ke tubuh manusia, menurut otoritas kesehatan provinsi itu. Sejumlah pejabat di China mengatakan, warga biasa yang berencana untuk bekerja atau belajar di luar negeri akan ditawari vaksin itu lebih cepat. Para pejabat itu juga mengingatkan bahwa mereka yang telah mendapat vaksin COVID-19 untuk terus melakukan tindakan pencegahan.

Secara total, 15 jenis vaksin telah memasuki uji klinis di China, dan lima di antaranya sedang dalam tahap tiga. Para ahli mengatakan China saat ini menggelar uji coba vaksin paling banyak, memimpin dunia dalam penelitian dan pengembangan vaksin COVID-19

Jika diurutkan dari enam negara penduduk terbesar di dunia per 16 Desember 2020, China terdaftar telah melakukan uji spesimen per satu juta penduduk sebanyak 111.000, India 113.000, Amerika Serikat 677.000, Indonesia 23.000, Pakistan 27.000, dan Brazil 120.000. Sebelumnya, Ketua Satuan Tigas (Satgas) Penanganan Covid-19 Doni Monardo meminta dinas kesehatan masing-masing provinsi, kabupaten, dan kota menghemat pengadaan tes usap (swab PCR). Ia mengatakan, pengadaan tes usap semestinya mengacu pada ketentuan Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 1.000 orang per 1 juta penduduk dalam 1 pekan. Rencana tersebut ia utarakan karena di lapangan ditemukan provinsi yang dalam sepekan jumlah tes usapnya melebihi ketentuan WHO.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.