February 28, 2021

Tempe Dan Tahu Langka dan Mahal? Ini Dampak Dan Penyebabnya

3 min read
Langka dan Mahalnya Tahu dan Tempe

Memasuki awal tahun 2021, tempe dan tahu mengalami kelangkaan dan harganya pun naik secara drastis lantaran stok dari kacang kedelai yang ada di Indonesia kini tak lagi mencukupi. Beberapa pasar di Indonesia salah satunya pasar kebayoran lama, Jakarta Selatan terlihat jelas jika penjual tahu dan tempe sulit ditemukan.

Ini merupakan dampak lanjutan dari para pengrajin tahu dan tempe se-jabodetabek yang kompak melakukan mogok produksi. Ini sudah terjadi beberapa hari belakangan ini. Ini tak lain karena lonjakan harga kacang yang merupakan bahan dasar dari pembuatan tempe dan tahu mengalami kenaikan.

Penyebab Kenaikan dan Kelangkaan Tempe dan Tahu di Pasar

Ada banyak sekali penyebab mengapa di awal tahun ini tempe dan tahu mengalami kelangkaan dan kenaikan harga yang drastis yakni:

  1. Melakukan aksi mogok produksi

Penyebab utama harga tahu dan tempe naik dikarenakan banyak pendemo yang merupakan produsen tempe dan tahu melakukan aksi karena harga kacang kedelai saat ini melonjak naik dari yang awalnya hanya 7 ribu rupiah kini menjadi 9 ribu rupiah. Puskopti atau Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia yang berada di DKI Jakarta mengatakan jika pihaknya melakukan mogok produksi dari tanggal 1 hingga 3 Januari 2021. Demo ini dilakukan agar harga kedelai yang menjadi bahan baku pembuatan tempe dan tahu segera menurun. Puskopti DKI Jakarta juga menuntut supaya pemerintah turun tangan untuk mengatasi perihal lonjaknya harga kedelai. Karena itu, ada 3 tuntutan yang diajukan.

Dan Puskopti juga menginginkan jika tata niaga tidak dipegang oleh pihak swasta melainkan ke pemerintah secara sepenuhnya. Tuntutan pertama agar pemerintah turun tangan untuk menjaga stabilitas harga kedelai di Indonesia dan memberikan kepastian ke para pengrajin tahu dan tempe. Karena seperti yang diketahui bahwa kedelai Indonesia sebagian besar memang dipenuhi oleh import jadi pemerintah harus bisa pastikan tata niaga dari harga kedelai tersebut.

Kemudian, pemerintah harus segera mewujudkan program swasembada kedelai yang sudah diwacanakan sejak tahun 2006 agar ketergantungan impor dapat dikurangi karena ini akan berpengaruh terhadap ketahanan produksi kedelai yang ada di Indonesia. Dan ketiga, mogok yang dilakukan oleh para produsen tempe dan tahu ini menginginkan jika pemerintah harus mengevaluasi hasil dari kedelai yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Karena hingga saat ini, angka produksi yang dihasilkan petani lokal sangat jauh dari jumlah kedelai yang dibutuhkan di dalam negeri.

  1. Kenaikan Harga Kedelai Dunia

Kemudian, kelangkaan dan kenaikan harga tempe dan tahu juga disebabkan oleh kenaikan harga kacang kedelai di dunia. Saat ini, harga kedelai dunia naik 9% dari harga awal. Kenaikan harga kedelai dunia ini merupakan akibat dari meningkatnya permintaan kedelai yang ada di Tiongkok untuk Amerika Serikat karena negara ini merupakan eksportir terbesar yang ada di dunia. Ini mengakibatkan kontainer di beberapa pelabuhan yang ada di Amerika Serikat berkurang sehingga terjadi hambatan saat proses pemasokan kedelai terhadap negara-negara yang mengimportir kedelai termasuk Indonesia. Karena itu, perlu antisipasi pasokan kacang kedelai yang dilakukan oleh para importir sebab stok tidak bertambah dan harganya pun masih sangat tinggi.

Dampak Harga Kedelai yang Meroket

Harga kacang kedelai yang meroket tentu memberikan banyak dampak terutama pabrik tahu dan tempe di Indonesia. Sejumlah pabrik pengolah tahu dan tempe harus berhenti beroperasi sehingga beberapa pemilik usaha harus merumahkan puluhan hingga ratusan orang yang bekerja di pabrik tersebut. Hampir seluruh pabrik tahu berhenti beroperasi selama beberapa pekan belakangan ini. Tidak hanya di Bogor saja tapi di Aceh, Purwakarta dan beberapa kota lain di Indonesia kini terkena imbas dari kenaikan harga kedelai ini. Ditambah lagi dengan pemogokan produksi yang dilakukan oleh produsen tahu selama tiga hari ini.

Para pengrajin tahu berjanji akan beroperasi lagi jikalau harga kedelai sudah turun atau mereka diperbolehkan untuk menaikkan harga tahu yang akan dijual di pasaran. Di Purwakarta sendiri, harga kedelai sudah mencapai 95 ribu per kg. Lonjakan harga kedelai juga membuat stok tempe dan tahu jadi langka di pasaran. Dan karena kelangkaan ini membuat warung tegal di beberapa kota Indonesia juga turut merasakan imbasnya. Banyak pedagang warteg terpaksa untuk tidak menyediakan menu tahu dan tempe di warung makannya.

Langkanya tempe dan tahu juga berimbas ke para pedagang gorengan. Ini tentu akan mengurangi omzet penjualan para pedagang tersebut. Karena bahan baku kedelai yang jadi andalan tidak ada membuat omzet mereka harus turun drastis bahkan lebih dari 50% di tiap harinya. Meski meroketnya harga kedelai ini karena faktor global, tetapi pemerintah di Indonesia harus tetap mengambil langkah tegas mengingat banyak dampak yang terjadi akibat lonjakan harga kedelai yang diimpor ke Indonesia.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.